22 Oktober 2014

Tugas Softskills



Cerita selama 3 tahun kuliah di Universitas Gunadarma

            Saya masuk kuliah di Universitas Gunadarma pada tahun 2011, yap saya angkatan 2011. Pertama kali akan masuk kuliah saya merasa senang campur deg-degan karena saya akan mempunyai teman baru dan hidup baru yang tidak sama lagi dengan kehidupan di SMA. Hari pertama masuk kuliah pun tiba, pagi-pagi sekali saya dianter kekasih saya sampai di depan kelas. Ya, kekasih saya adalah anak Gunadarma juga. Jadi sedikit banyak saya sudah tau perkuliahan di Universitas Gunadarma seperti apa. Saya pun masuk ke kelas 1 EA 04 dan saya berkenalan dengan teman-teman baru. Ternyata teman baru saya orangnya asik sehingga kami tidak canggung dan cepat sekali akrab.
            Hari-hari berlalu dan saya semakin dekat dengan 5 teman saya yaitu Risha, Rere, Ulfa, Tito dan Nova. Kami sering main bareng seperti karokean, nonton bioskop, makan siang saat istirahat dan yang paling sering kami lakukan adalah nonton film dikosan Rere. Diantara kami ber-enam hanya Rere yang ngekos, jadi kami sangat sering berkumpul dikosan Rere. Sayangnya satu tahun begitu cepat sehingga kami harus pisah kelas. Kami berbeda kelas antar satu dengan yang lain. Rasanya benar-benar sedih karena diantara kami ngga ada yang satu kelas lagi dan harus mencari teman baru di tingkat 2.
            Perkuliahan di tingkat 2 tiba, ternyata saya satu kelas dengan Eka dan Abeng. Mereka teman saat dikelas 1 EA 04. Awalnya kami hanya jalan bertiga karena belum kenal dengan teman-teman di kelas tingkat 2 namun setelah beberapa hari berlalu saya dan Eka bertemu teman baru yaitu Dini, Acil, Sinta, Dwi, Putri, Pamel, Eva, Icha, Riska, Meyta, Pebri dan masih banyak yang lainnya. Kami semakin dekat tiap harinya dan selalu main bareng. Dengan berjalannya waktu kami semakin kompak dan dekat satu sama lainnya.
            Suatu hari saya mencoba-coba untuk melamar asisten di Gunadarma yaitu Pusat Bisnis dan Kewirausahaan yang lebih dikenal dengan nama Puswira atau Galery. Beberapa hari kemudian saya di telepon untuk mengikuti tes selanjutnya yaitu wawancara. Setelah di wawancara, saya disuruh untuk menunggu panggilan selanjutnya apabila diterima sebagai asisten di Puswira. Kira-kira 2 minggu kemudian saya mendapat kabar bahwa saya diterima dan saya merasa amat senang saat itu. Menjadi asisten di Puswira terasa sangat menyenangkan dan juga punya pengalaman dan pembelajaran sendiri yang tidak bisa saya temui di dalam kelas. Di Puswira pun kami sudah seperti keluarga sendiri karena kami (asisten dan staff) sudah sangat dekat.
            Tingkat 3. Tak terasa waktu begitu cepat berjalan. Di semester 6 saya harus membuat Penulisan Ilmiah atau PI. Awalnya bingung harus membuat penulisan apa dan dengan judul apa. Tapi berkat bantuan Dosen Pembimbing, saya mendapat banyak sekali ide dan pencerahan. Tak lupa juga atas dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat saya. Alhamdulilah Penulisan Ilmiah saya berjalan lancar tanpa hambatan apapun dan pada saat saya sidang pun lancar. Sertifikat juga sudah keluar berarti saya sudah lulus D3. HOREEEE!!!! Mengucap syukur Alhamdulilah kepada Allah SWT
            Sekarang saya sudah memasuki tingkat 4. Ya, semester 7 artinya tinggal satu semester lagi dan sebentar lagi akan menyusun skripsi. Semoga perkuliahan saya disini lancar tanpa hambatan apapun sehingga cepat lulus dan secepatnya mendapat kerjaan yang bagus. Aminnnnnnn.....

Sekian cerita saya. Terima kasih! 

Tugas Softskills



CURRICULUM VITAE

DATA PRIBADI

Nama                                      : NINDIA RIANASARI
Tempat, tanggal lahir             : Jakarta, 21 Juni 1993
Umur                                      : 21 Tahun
Jenis Kelamin                         : Perempuan
Kewarganegaraan                     : Indonesia
Agama                                    : Islam
Status                                      : Belum menikah
Kondisi                                     : Sehat
Tinggi Badan                          : 163 cm
Berat Badan                            : 42 kg
Alamat                                    : Jl. Anggrek 9 Kranggan Permai
Pendidikan terakhir                : Diploma Tiga (D3) Ekonomi Manajemen

PENGALAMAN KERJA:

  •  25April 2013Sekarang   : Universitas Gunadarma

        - Asisten Pusat Bisnis Dan Kewirausahaan ( PUSWIRA )

KEMAMPUAN:
  •   Kemampuan Komputer : Microsoft Office (Ms. Office Word, Ms. Office Power Point, Ms. Office Excel)
  •   Kemampuan Internet : e-mail, browsing, chatting
  •   Memiliki SIM C
  • Bahasa Inggris



                                                                                                                 Jakarta, 22 Oktober 2014
Hormat Saya



            NINDIA RIANASARI

9 Juni 2014

Tugas Softskills Cerpen

Cerpen Persahabatan Sejati


"Senyum Terakhir"

Dengan nafas yang terengah-engah setelah mengendarai sepeda. Aku terhenti saat ku melihat dia, aku tak tau siapa dia. Wajahnya cukup cantik dan manis, aku singgah membeli segelas air untuk melepaskan dahaga yang melanda tenggorokanku.

Setelah beristirahat aku langsung menggayuh pedal sepeda untuk pulang ke rumah. Sesampai dirumah, kedua orang tuaku sedang pergi ke sebuah tempat yang aku tidak tau. Aku segera pergi mandi karena badanku sudah bermandi keringat. Setelah mandi aku memakai pakaian dan menuju taman yang tak jauh dari kompleks rumahku. Aku kaget si dia juga sedang berada ditaman. Tanpa pikir panjang aku langsung menghapirinya.
“Hai…..”, kataku

Dengan senyum aku menyapanya.
Tapi dia tidak merespon dan tetap saja membaca sebuah novel. Sekali lagi aku mengulangi sapaanku.

“Hai.. boleh kenalan gak?”.
“Iya ada apa?”, katanya sambil menatap novel yang dibacanya.
“Aku boleh gak kenalan? Namaku Zhaky”, sambil mengulurkan jemariku.

Dia langsung berdiri lalu meletakkan bukunya di atas kursi dan memberi tah u namanya.
“Namaku Tamara”, katanya dengan senyum.
“Kamu tinggal dimana?”, kataku.
“Aku tinggal di sebelah kiri toko buku dekat gerbang kompleks. Aku baru pindah kemarin.”
“Oooo…. Kamu anak baru yah?”.
“Memang kenapa?”.
“Tidak kenapa-kenapa kok”.
“Ayo aku temani jalan-jalan di taman ini. Lagi pula gak enak juga kalau suasananya begini-begini saja”, pintaku.
“Ok.. baiklah”, katanya dengan lembut.

Langkah demi langkah mengawali perkenalanku dengan si dia yaitu Tamara. Kami berjalan mengeliling taman, dari pada hanya terdiam lebih baik aku memulai pembicaran. Aku menanyakan banyak hal kepadanya. Dan kami selalu menyelingi pembicaraan kami dengan candaan yang cukup untuk mengocok perut hingga sakit.
Sekarang sang mentari akan kembali ke peraduannya. Kami berjalan pulang bersama karena arah rumah kami searah. Tamara berada di depan kompleks sedangkan rumahku ada di lorong kedua sebeleh kanan di kompleks tempat tinggalku. Sesampai di depan rumah Tamara kami berhenti dan menyempatkan diri untuk bercanda sebentar.

Suara teriakan Ibunya yang memanggil membuat kami berdua kaget.
“Tamara… Tamara… ayo cepat masuk, udah hampir malam nih!, teriak ibunya.
“Ya bu.. tunggu!, Zhaky aku duluan yah?”, katanya dengan senyum.
“Iya...”, kataku sembari membalas tersenyumnya.
“Kamu juga cepetan pulang, nanti di cariin sama Ibu kamu”.
“Ok… aku pulang yah.. dadah..!, sambil berjalan dan melambaikan tangan.

Di perjalanan, aku hanya bisa berkata “baru kali ini aku bisa cepat berkenalan dengan seorang gadis, apalagi gadis seperti Tamara”. Kini aku berjalan di antara jalan yang sepi dengan sedikit penerangan dari lampu jalan yang mulai redup dan di kerumuni serangga.

Sesampai di rumah aku di marahi oleh Ibuku.
“Kamu ke mana aja”?, bentak Ibu.
“Maaf Bu, aku tadi dari keliling taman”, kataku sambil menunduk.
“Lain kali jangan pulang telat lagi yah?”.
“ Iya Bu”, sembariku meninggalkan ibu di teras rumah.
***

Keesokan paginya aku bertemu dengan Tamara, ternyata aku sama sekolah dengan dia, kemarin aku lupa nanya sih. Aku langsung berlari menghapirinya.
“Tamara… Tamara…. tunggu aku!”, kataku sambil berlari.

Tamara berhenti dan memegang pundakku.
“Masih pagi-pagi kok dah keringatan kayak gini?, ini usap keringatmu!”, katanya sembari menyodorkan sapu tangannya.
“Iya nih, kamunya tuh. Kamu jalannya cepat amat” .
“Iya maaf”, kataya sambil tersenyum.
“Ayo buruan entar pintu gerbang di tutup”.

Sesampai di sekolah aku langsung ke kelas dan ternyata Tamara juga sekelas dengan aku. Dia duduk di sampingku, karena Dino teman aku baru pindah sekolah dua hari yang lalu. Tamara naik dan memperkenalkan dirinya ke teman-teman kelasku.
“Hai perkenalkan namaku Tamara Adelia, panggil aja aku Tamara. Aku baru pindah dari Makassar kemarin, semoga kita semua bisa menjadi teman yang akrab”.
“Ok….”, Teriak semua temanku.

Kini kami semakin dekat. Kami selalu bersama, kami duduk di depan kelas sembari bercerita tentang tugas sekolah.

“Kamu suka pelajaran apa?”, tanyaku.
“Aku paling suka pelajaran matematika”.
“Kenapa kamu suka pelajaran itu?, padahal pelajaran itu agak rumit dan memusingkan”.
“Karena aku suka aja dengan pelajaran itu, kalau kamu sukanya pelajaran apa?”.
“Aku paling suka dengan pelajaran bahasa Indonesia, yah pelajaran sastra”.
“Kenapa kamu suka pelajaran itu?, tanyaku.
“Seperti kamu tadi, aku suka aja dengan pelajaran itu. Aku sudah buat beberapa cerpen, mau baca?”, kataku sambil menyodorkan beberapa cerpen karyaku.
“Ini buatan kamu?, aku gak percaya”.
“Iyalah, ini buatan aku. Kamu baca yah dan berikan saran, ok?”.
“Ok…”, katanya sambil tersenyum.
***

“Tttttttteeettt….”, Bunyi bel menandakan kami akan melanjutkan ke pelajaran berikutnya. Tapi, guru yang mengajar tidak datang. Jadi aku dan Tamara bersama teman-teman yang lain hanya bercerita tentang hal-hal yang dapat mengocok perut.

Tak lama kemudian, kami pun pulang. Aku bersama Tamara dan temanku yang lain berjalan menuju pintu gerbang, menertawai hal yang tak patut ditertawai. Di perjalanan pulang Tamara berteriak, “Auuuuhh sakit, Zhaky bantu aku berdiri!” pintanya sambil meneteskan air matanya. kaki Tamara tersandung batu, dan kelihatannya kaki Tamara Terkilir.
“Sudah jangan nangis donk, pasti kamu akan sembuh kok”, kataku menyemangati.
“Iya Zhaky, tapi kaki aku sakit banget. Bantu aku berdiri donk!”, pintanya
“Auuuuhh…. Sakit!!”, katanya sambil merintih kesakitan.
“Sini biar aku gendong deh, gak apakan?” .
“Betul mau gendong aku, aku berat loh!”, katanya sambil tersenyum.
“sakit-sakit gini sempat aja ngelawak, sini naik cepat”.
“hehehe…. Aku beratkan?”, tanyanya, sambil tertawa.
“Gak kok..”, kataku sambil tersenyum.

Sesampai di depan rumah Tamara, Ibunya yang sedang membaca koran kaget saat melihat kedatanganku yang menggendong Tamara.
“Tamara, kamu gak apa-apakan nak?”.
“Gak apa-apa kok Bu”, kata Tamara.
“Kakinya terkilir tadi waktu jalan pulang tante”, kataku.
“Terima kasih yah nak ….”
“ Zhaky, tante!”, ucapku dengan maksud memperkenalkan diri.
“Iya terima kasih yah nak Zhaky”, katanya sambil tersenyum.
“Tamara, tante, Zhaky pulang dulu yah?”, kataku.
“Iyaa nak Zhaky, kapan-kapan main ke rumah yah?”, kata ibu Tamara.
“Baik tante”, kataku sambil tersenyum.
Sehabis menggendong Tamara punggungku rasanya ingin copot, benar juga kata Tamara badannya berat. Tapi, tidak apalah dari pada sahabat aku Tamara gak pulang ke rumah. Sesampai dirumah aku langsung melepas pakaian dan makan siang. Sesudah itu aku langsung tidur karena aku lelah banget udah gendong Tamara.
***

Keesokan paginya aku menunggu Tamara di depan rumahnya. Saat melihat dia keluar rumah, dia sudah bisa berjalan dengan baik. Aku kaget dan bengong melihatnya.
“Woii kamu kenapa bengong kayak gitu?”, tanyanya sambil mencubit pipiku.
“Akh gak apa kok!, eh kok cepat amat sembuhnya?”.
“Iyaa nih, semalam aku dibawa ke tukang urut, rasanya sakit amat waktu di urut”.
“Baguslah, daripada berjalan dengan pincang”, kataku sambil tersenyum.
Sampai di sekolah teman-teman ku berkumpul membicarakan sesuatu, aku dan Tamara bergegas ke sana dan mendengar apa yang di ceritakan teman-temanku itu.
“Teman-teman, besokkan kita libur bagaimana kalau kita liburan?”, kata Naila.
“Kita mau ke mana ?”, tanyaku memotong pembicaraan.
“Kita akan pergi liburan, baiknya kita ke mana?”, kata Denny.
“Bagaimana kalau kita pergi ke tempat rekreasi terkenal di kota ini!”, kata Tamara.
“Baiklah kita akan ke pantai Bira!”, kataku.

Tak sabar menunggu saat itu, aku menceritakan sedikit tentang pantai Bira kepada Tamara. Kami tidak memerhatikan penjelasan guru, akibat cerita kami yang semakin mengasyikkan. Tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi. Rasanya aku tidak ingin berpisah dengan Tamara walau sekejap saja. Tapi, mungkin itu cuman perasaanku saja. Kami berkeliling sekolah mencari hal-hal yang baru dan melupakan apa yang aku banyangkan tadi.

Tidak lama kemudian, bel kembali berbunyi kami berlari ke kelas. Kami berlari sambil tertawa dengan senangnya. Rasanya hal ini adalah hal yang terindah bagiku. Sesampai di kelas kami duduk dan menunggu guru. Tak lama kemudian, guru yang mengajar pun datang.

Aku merasa agak tidak enak badan. Tamara iseng mencubit pipiku dan Tamara kaget.
“Zhaky kamu gak apa-apa, kan?” tanyanya dengan khawatir.
“Aku gak apa-apa kok”, kataku dengan nada yang pelan.
“Kamu sakit dan aku harus antar kamu pulang!”, katanya sambil berjalan menuju guruku.
“Pak, Zhaky sakit”, katanya.
“Baiklah bawa dia pulang, kamu mau mengantarnya?” tanya pak guru.
“Iya pak aku bisa kok”, katanya.

Berhubung sudah hampir pulang Tamara memasukkan barang-barangku ke dalam tas
lalu dia juga membereskan barang-barangnya.
“Ayo aku antar kamu pulang”, katanya.

Tamara meminta izin mengantar aku pulang. Sambil memegang jemari-jemariku dan sesekali memegang keningku. Tamara selalu bertanya tentang keadaanku. Tapi, aku hanya bisa menjawabnya dengan kalimat, “Aku baik-baik saja kok, gak usah khawatir”.
Sesampai di rumah aku langsung di bawa Tamara ke kamarku sembari ibu mengomel-ngomeliku.
“Ini sebabnya kalau makan gak teratur”, katanya.
“Sudah tante, Zhaky ‘kan lagi sakit”, pinta Tamara ke Ibuku.
“Biarlah nak, biar dia tahu rasa”, kata Ibuku.
“Kalau begitu aku pulang dulu tante”.
“Nak nama kamu siapa?”.
“Nama aku Tamara, tante”.
“Terima kasih yah nak Tamara, udah bawa pulang anak tante ini”.
“Iya, sama-sama tante”, katanya.
Aku melihat senyuman indah dari Tamara saat akan keluar dari kamarku.
***

Keesokan paginya, rasanya badanku udah sehat. Aku bergegas menyiapkan barang yang akan ku bawa. Aku mandi dan sesudah itu berpakaian rapi dan langsung menuju rumah Tamara. Tapi, Tamara sudah berangkat duluan. Aku langsung ke sekolah. Sampai di sekolah aku melihat Tamara dan langsung menghampirinya.
“Zhaky, kamu udah sembuh?”, katanya.
“Iya.. aku udah sembuh kok”.
“Betul aku udah sembuh”, kataku sambil meraih tangannya dan meletakkannya di keningku.

Tak berapa lama kemudian, bus yang akan mengantar kami ke pantai Bira pun datang. Aku duduk di belakang bersama anak lelaki lainnya. Tamara berada di depan bersama teman wanitanya. Di perjalanan rasa gelisahku semakin tak menentu. Aku memiliki pirasat buruk dan naas tak berselang beberapa lama mobil yang aku tumpangi kecelakaan.

Aku merasa kepalaku sakit, saat ku pegang kepalaku mengeluarkan darah yang banyak. Tapi, yang ada di pikiranku sekarang adalah Tamara. Aku langsung berteriak dengan nada yang lemah. “Tamara.. kamu gak apa-apa, kan?”. Aku tak mendengar suaranya. Aku melihat teman-temanku terluka dan mengeluarkan banyak darah. Saat aku ke tempat duduk Tamara, aku melihat kepala Tamara mengeluarkan banyak darah. Rasa sakit yang aku rasa membuat aku pingsan.
“Zhaky, Zhaky, bangun nak, ibu di sini”, kata ibuku sambil menangis.

Mendengar suara itu, aku terbangun. Aku sekarang berada di rumah sakit, aku kaget dan berteriak.
“Dimana Tamara Bu? Tamara baik-baik sajakan Bu?”.

Ibu hanya terdiam sambil menatap ayah.
“Ibu apa yang terjadi?”, aku mulai meneteskan air mata.
“Maaf nak, kini Tamara sudah berada di tempat lain”, dengan nada yang pelan ibu memberitahuku.
“Jadi maksud ibu?”.
“Iya Nak, Tamara telah meninggal akibat kecelakaan itu”, kata ibu sembari memelukku.

Aku terduduk di ranjang dan dipeluk ibu sambil menangis dengan keras dan berkata “ kenapa dia terlalu cepat meninggalkan aku Bu?”. Aku terdiam dan mengingat saat aku sakit, dia memberiku senyuman yang kuanggap indah itu dan menjadi senyuman terakhir darinya. (SELESAI).


Sumber: http://www.kukejar.com/2013/03/cerpen-persahabatan.html

16 Mei 2014

Tulisan Softskills Prinsip Katak

PRINSIP KATAK

Alkisah ada seekor katak dengan sebuah seember air kisah ini menggambarkan hukum kemerosotan...
kalo kamu mengambil seekor katak yang cerdas, yang bahagia, dan menjatuhkannya kedalam seember air mendidih, apa yang akan ia lakukan? Melompat keluar!. Seketika itu juga sang katak memutuskan : " Tempat ini tidak menyenangkan, aku harus keluar dari sini!"

Akan tetapi, ambil lah katak yang sama atau saudaranya. dan jatuhkan dia kedalam seember air dingin, letakkan embernya diatas kompor, dan panaskan embernya secara bertahap. Lalu bagaimana? Sang katak akan rileks, dan beberapa menit kemudian ia mengatakan kepada diri sendiri: " Tampaknya disini agak hangat." Seegera lah kamu mendapatkan katak rebus.

Pesan moral ceritanya? Ketika perubahan terjadi secara secara bertahap, sang katak tidak memperhatiak apa yang terjadi hingga semuanya terlambat sudah. Seperti sang katak, kita bisa terkecoh, dan tiba - tiba semua terlambat sudah!.

Hal - hal kecil menumpuk menjadi hal - hal besar seperti tetesan air yang melubangi batu karang. Prinsip katak mengajarkan kita untuk memperhatikan setiap kecenderungan. Setiap harinya, kita bertanya kepada diri sendiri: " Kemana aku menuju? Apakah aku lebih bugar, lebih sehat, lebih bahagia, lebih makmur dari pada tahun lalu?" Kalau tidak , kita perlu mengubah apa yang kita lakukan.


Tulisan Softskilss

Kita Sendiri yang Memilih Kebahagiaan

Sebagian orang lebih banyak berbahagia dan sebagian orang tidak pernah berbahagia. Faktanya : kita sendiri yang memilih kebahagiaan terlepas dari masalah kita. Pernahkah kamu:
- Berdebat dengan pacarmu ?
- Gagal dalam ulangan ?
- Dihukum oleh orang tua mu ?
- Jatuh sakit ?
- Dikecewakan seorang teman ?

Pernahkah kamu membutuhkan uang namu orang tuamu tidak memberikannya ?
Pernahkan kamu kehilangan teman atau sanak saudara ?
Pernahkah kamu yang mengerjakan seluruh PR mu namun orang lain yang diakui berjasa ?
 
Semua itu terjadi pada kita semua bukan ? Ketika hal itu terjadi, banyak orang mengatakan, "Ini akan merusak hari/minggu/tahun ku" Dan demikianlah yang terjadi. Akan tetapi, orang yang paling bahagia mengatakan, "Kegilaan apapun yang terjadi dalam kehidupanku, aku bertekad akan tetap bahagia."

Kebahagiaan adalah ungkapan kemauan. Kamu mencapainya dengan mengendalikan pikiranmu,
Persoalannya adalah pikiranmu. Kamu sendiri yang memutuskan apa yang kamu pikirkan. Saya masih teringat ketika saya menunggu kehidupan saya membaik. Pada waktu itu saya berfikir, "Ketika masalahku lebih sedikit, baru aku bahagia!" Lalu saya memperhatikan sesuatu yang menakjubkan. Orang yang paling bahagia, yang saya kenal, mempunyai lebih banyak masalah daripada saya, Mungkin kamu pun pernah memperhatikan hal yang sama bahwa orang yang tampaknya paling bahagia biasanya justru paling berat kehidupannya. Mereka telah kehilangan anggota keluarga, kehilangan uang, menderita penyakit parah dan kemungkinan besar mereka masih mempunyai masalah besar! Akan tetapi, mereka bahagia sebab pada suatu ketika mereka memutuskan bahwa "Berbahagia" adalah satu-satunya cara hidup.

Kebahagiaan tidaklah terjadi begitu saja kepadamu, seperti "Kecelakaan." Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu pilih sendiri.
 
 

Tulisan Softskill Teknik Relaksasi


TEKNIK RELAKSASI

Ada empat hal sederhana yang mungkin dilakukan siapa pun yang otomatis menghasilkan relaksasi dalam pikiran dan tubuhmu :
  • Memejamkan mata
  • Bernafas dalam – dalam
  • Merilekskan tubuhmu
  • Melewatkan waktu di alam, entah dalam kenyataan atau imajinasimu
Sekarang kita tahu bahwa kamu meraih performa puncak ketika kamu rileks, mari kita mengkaji suatu teknik relaksasi yang sederhana. Ini serupa dengan teknik relaksasi mana pun yang diajarkan oleh para dokter atau psikolog olahraga di seluruh dunia. Kamu bisa menggunakan teknik ini sebelum berpidato, sebelum ujian atau sebelum pertandingan sepak bola atau hanya untuk merasa senang. Ada baiknya kamu menggunakan latihan ini juga untuk merilekskan pikiranmu sebelum memutar film-film mentalmu.
Kita menggunakan masing-masing dari keempat langkah diatas.
Ini hanya panduan. Tidak  menjadi masalah kalau kamu membuat sedikit variasi sehingga tidak terlalu tegang. Idealnya adalah rileks!
1. Carilah posisi yang nyaman pada sebuah kursi lalu pejamkan matamu. Jangan melipat lengan maupun kakimu.
2. Tariklah napas dalam-dalam. Tariklah napas hingga hitungan ke-8. Keluarkan napas hingga hitungan ke-8. Ulangi sepuluh kali.
3. Bayangkan otot-otot pada wajahmu rileks... Sementara kamu terus bernapas dalam-dalam dan merata, sadarilah otot-otot kecil di sekeliling matamu. Ingat saja otot-otot ini ketika kamu bernapas. Berikutnya, sadarilah otot-otot pada dahimu sementara kamu terus bernapas dalam-dalam dan merata.
Pada saat kamu merilekskan tubuhmu kamu menggeser kesadaranmu ke bawah mulai dari dahi ke pipi, ke mulut, ke dagu, ke leher, ke bahu, ke lengan bagian atas, ke lengan bagian bawah, ke tangan, ke jari, ke dada, ke perut, ke pinggul, ke paha, ke lutut, ke betis, ke pergalangan kaki, dan pada akhirnya ke kakimu (Mungkin kamu akan menghabiskan lima atau sepuluh menit bergeser dari kepala hingga ke kaki).
4. Bayangkan dirimu perlahan - lahan berjalan menuruni dua puluh anak tangga ... 20, 19, 18 hingga 1. Bayangkan dirimu berdiri di pintu. Bukalah pintunya dan keluarlah ke pemandangan alam yang indah.
5. Sekarang mulailah membayangkan dirimu di pemandangan alam yang indah. Kamu boleh membayangkan diri di pantai atau di pegunungan atau dekat sungai atau di padang rumput atau terapung di gunung es. Kamu bisa memilih pemandangan yang pernah kamu alami, atau pemandangan yang kamu bayangkan.