14 Desember 2013

Perilaku Konsumen Kelompok 4



                                    TUGAS SOFTSKILL
“PERSEPSI KONSUMEN”

KELOMPOK 4
ANGGOTA:
·      ANDI PAMELYA RIFHADINI (10211740)
·      ANNISA AYU DIRAHMA (10211952)
·      EKA SEFTRI RIANI SUBALI (12211359)
·      NINDIA RIANASARI (15211181)
·      PUTRI AYUNIAH (15211637)

3EA14
Persepsi Konsumen
Persepsi adalah proses di mana seseorang memilih, mengatur, dan menafsirkan rangsangan menjadi sebuah gambar yang bermakna dan koheren dunia. Bagaimana kita melihat dunia di sekitar kita.
Berbagai Konsep Penting Mengenai Persepsi Selektif
                Pemilihan stimuli konsumen dari lingkungan berdasarkan pada interaksi berbagai harapan dan motif mereka dengan stimulus itu sendiri. Prinsip persepsi yang selektif meliputi konsep-konsep berikut ini: pembukaan diri yang selektif, perhatian yang selektif, pertahanan terhadap persepsi, dan halangan persepsi.
PENGELOMPOKAN PERSEPSI
                Para konsumen mengorganisasikan semua persepsi mereka menjadi satu keseluruhan. Prinsip-prinsip khusus yang mendasari pengelompokkan persepsi seringkali disebut psikologi Gestalt. Tiga prinsip yang paling dasar adalah figur dan dasar, pengelompokan, dan penyelesaian.
INTERPRETASI PENAFSIRAN PERSEPSI
                Penafsiran stimuli sangat subyektif dan didasarkan pada apa yang diharapkan konsumen untuk dilihat dari pengalaman sebelumnya, banyaknya penjelasan yang masuk akal yang dapat dibayangkannya, motif dan minat pada waktu timbulnya persepsi, dan kejelasan stimulus itu sendiri. Pengaruh yang cenderung menyimpangkan penafsiran yang obyektif diantaranya:
  • Penampilan fisik,
  • Stereotip,
  • Berbagai petunjuk (isyarat) yang tidak relevan,
  • Kesan pertama, dan
  • Kecenderungan mengambil keputusan yang terlalu cepat.
BERBAGAI CITRA KONSUMEN
                Sebagaimana para Individu merasakan citra diri sendiri, mereka juga merasakan citra produk dan citra merk. Produk dan merk mempunyai nilai simbolis bagi individu, yang menilainya atas dasar konsistensi (kesesuaian) dengan gambaran pribadi mengenai diri sendiri.
PENGATURAN ULANG POSISI PRODUK
                Citra yang dipunya produk tertentu dalam pikiran konsumen yaitu pengaturan posisinya, yang mungkin lebih penting bagi sukses akhir daripada karakteristik produk yang sebenarnya. Produk dan jasa yang dirasa menyenangkan mempunyai peluang yang jauh lebih baik untuk dibeli daripada produk dan jasa yang mempunyai citra tidak menyenangkan atau netral. Tanpa memperhatikan seberapa baik posisi produk tertentu, pemasar mungkin terpaksa mengatur ulang posisi produk untuk merespon peristiwa pasar (seperti pesaing mengurangi pangsa pasar merknya), atau memenuhi perubahan kelebih-sukaan konsumen, dan lain sebagainya.
PENGATURAN POSISI JASA
                Dibandingkan dengan perusahaan pabrikan, para pemasar jasa menghadapi beberapa masalah yang unik dalam mengatur posisi dan mempromosikan penawaran. Karena jasa tidak dapat dilihat, citra menjadi faktor kunci dalam membedakan faktor jasa dari para pesaingnya. Dengan demikian, tujuan pemasaran adalah untuk memungkinkan konsumen menghubungkan suatu citra khusus dengan merk khusus.
PANDANGAN ATAU PERSEPSI MENGENAI HARGA
                Bagaimana konsumen memandang harga tertentu (tinggi, rendah, wajar) mempunyai pengaruh yang kuat terhadap maksud membeli dan kepuasan membeli. Para konsumen mengandalkan harga acuan internal maupun eksternal ketika menilai kewajaran harga. Harga acuan adalah setiap harga yang digunakan konsumen sebagai dasar perbandingan dalam menilai harga lain. Harga acuan internal adalah harga-harga (rentang harga) yang didapat kembali oleh konsumen dari ingatan.
Elemen Persepsi dibagi menjadi 4, yaitu :
1.       Sensasi
Sensai merupakan respon yang segera dan langsung dari alat pancaindera terhadap stimuli yang sederhana (iklan, kemasan, merk). Stimulus adalah setiap unit masukan yang diterima oleh panca indera. Kepekaan konsumen merujuk pada pengalaman berupa sensasi. Kepekaan terhadap stimuli berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kualitas indera penerima individu dan besarnya atau intensitas stimulasi yang dialaminya.

2.       Ambang Batas Absolut
Tingkat terendah dimana seseorang dapat mengalami sensasi disebut ambang absolut. Titik dimana seseorang dapat mengetahui perbedaan antara “ada sesuatu” dan “tidak ada apa-apa” merupakan ambang absolut orang itu terhadap stimulus tersebut. Dalam bidang persepsi, istilah penyesuaian diri khususnya merujuk pada “menjadi terbiasa” terhadap sensasi dan tingkat stimulasi tertentu.

3.       Ambang Diferensial atau JND ( Just Noticeable Difference)
Perbedaan terkecil (minimal) yang dapat dirasakan antara dua macam stimuli yang hampir serupa disebut ambang diferensial atau just noticeable difference (perbedaan yang masih dapat dilihat) disingkat j.n.d. Ernest Weber seorang ilmuwan Jerman abad 19 menemukan bahwa j.n.d. antara dua stimuli tidak merupakan jumlah absolut tetapi jumlah relative atas intensitas stimulus pertama. Hukum Weber menyatakan bahwa semakin besar stimulus pertama, semakin besar intensitas tambahan yang dibutuhkan supaya stimulus kedua dapat dirasakan perbedaannya. Sebagai contoh, kenaikan $100 pada harga sebuah mobil mungkin tidak akan diperhatikan, tetapi kenaikan $1 pada harga premium (bensin) segera akan menjadi perhatian para konsumen, karena merupakan persentase yang berarti dari harga bensin sebelum terjadi kenaikan harga.

Aplikasi JND ke pemasaran
Para produsen dan pemasar berusaha menetapkan j.n.d. yang relevan untuk produk mereka karena dua alasan yang sangat berbeda yaitu:

a.       Supaya berbagai perubahan negatif (misalnya, pengurangan ukuran atau kualitas produk, atau peningkatan harga produk) tidak dapat dengan mudah dilihat oleh publik (tetap dibawah j.n.d.).
b.      Supaya perbaikan produk (seperti kemasan yang diperbaharui, ukuran yang diperbesar, atau harga yang lebih rendah) sangat jelas bagi para konsumen tanpa pemborosan yang tidak berguna (berada di tingkat atau sedikit di atas j.n.d.).

4.       Persepsi Subliminal
Adalah persepsi yang timbul oleh stimulus yang berada di bawah ambang batas atau elemen kesadaran walaupun jelas tidak di bawah ambang batas absolut. Contoh persepsi sublimal yaitu :
a.       1957: Drive-In Movie Theater
b.      1974: Publikasi Seduction Subliminal
c.       1990: Tuduhan terhadap Disney
- Apakah Persuasi Subliminal Efektif? Penelitian yang ekstensif telah menunjukkan tidak ada bukti bahwa iklan subliminal dapat menyebabkan perubahan perilaku. Beberapa bukti bahwa rangsangan subliminal dapat mempengaruhi reaksi afektif.
            Delta I = I x K

 
Hukum weber : Sebuah teori mengenai diferensiasi yang dirasakan antara rangsangan yang sama dari berbagai intensitas (yaitu, semakin kuat stimulus awal, semakin besar intensitas tambahan yang dibutuhkan untuk stimulus kedua dianggap sebagai yang berbeda).

Delta I = JND, perbedaan terkecil dari intensitas stimulus yang diperlukan untuk menghasilkan JND
I = Intensitas stimulus awal sebelum ada perubahan
K= Konstanta yang menggambarkan proporsi jumlah perubahan dalam stimulus yang diperlukan agar bisa dirasakan. Nilai K akan berbeda antara pancaindra.
PRODUK
I (Harga Awal)
Perubahan Harga
K (% perubahan)
Harga Akhir
Beras Rojolele
Rp. 4000,00/Kg
Rp. 400,00
10%
Rp. 3600,00
Pizza Hut Large
Rp. 40000,00/loyang
Rp. 400,00
1%
Rp. 39.600,00





 Aplikasi hukum Weber :
  • Jika Kedua produk diturunkan masing-masing sebesar Rp.400,00 maka perubahan harga untuk beras sebsar 10% (K=10%) dan penurunan untuk pizza sebesar 1%
  • Jika berdasarkan angka absolut, penurunan harga ini tidak tepat. Konsumen akan merasakan perbedaan jika harga beras menjadi Rp.3.600,00 per Kg namun tidak haknya jika pizaa hanya menjadi Rp. 39.600,00
  • Agar konsumen merasakan perbedaan antara stimulus yang dihasilkan dengan dengan stimulus semula maka harus menggunakan persen penurunan dari harga awal, yaitu menetapkan berapa nilai K. Misalnya K adalah 10% maka produsen pizza harus menurunkan harga pizza sebesar Rp.4000,00 menjadi Rp. 36.000/Loyang dan harha beras turun Rp.400,00 menjadi Rp. 3.600,00/Kg.
Riset Mengenai Persepsi Subliminal
                Riset menyangkal pendapat bahwa stimuli subliminal mempengaruhi keputusan membeli konsumen. Serangkaian eksperimen laboratorium yang sangat imajinatif dan diadakan mengikuti dengar pendapat publik tersebut mendukung pendapat bahwa individu dapat merasakan sesuatu di bawah tingkat kesadaran mereka, tetapi tidak menemukan bukti bahwa mereka dapat dibujuk untuk bertindak sebagai respon terhadap stimulasi subliminal.
Mengavaluasi Keefektifan Persusasi Subliminal
                Suatu tinjauan literatur menyatakan bahwa riset persepsi subliminal berdasarkan pada dua pendekatan teoritis, yaitu:
  1. Pengulangan stimuli yang sangat lemah secara terus-menerus mempunyai pengaruh tambahan yang memungkinkan stimuli itu membangun daya tanggapan terhadap berbagai penyajian.
  2. Stimuli seksual subliminal menimbulkan motivasi seksual yang tidak disadari
Meskipun demikian, belum ada studi yang menunjukkan bahwa salah satu pendekatan teoritis ini telah digunakan secara efektif oleh para pemasang iklan untuk meningkatkan penjualan. Ringkasnya, walaupun ada bukti bahwa stimuli subliminal dapat mempengaruhi reaksi afektif, namun tidak ada bukti bahwa stimulasi subliminal dapat mempengaruhi motif atau tindakan konsumsi.
Aspek Persepsi pada hakekatnya  merupakan suatu interelasi dari berbagai komponen, dimana komponen-komponen tersebut menurut Allport (dalam Mar’at, 1991) ada tiga yaitu:
1.    Komponen Kognitif
Yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang tentang obyek sikapnya. Dari pengetahuan ini kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang obyek sikap tersebut.


2.    Komponen Afektif
Afektif berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang. Jadi sifatnya evaluatif yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan atau sistem nilai yang dimilikinya.
3.    Komponen Konatif
Yaitu merupakan kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan obyek sikapnya.
·      Seleksi
Seleksi ini terjadi ketika konsumen menangkap dan memilih stimulus berdasarkan pada psychological set yang dimiliki. Psychological set yaitu berbagai informasi yang ada dalam memori konsumen. Sebelum seleksi persepsi terjadi, terlebih dahulu stimulus harus mendapat perhatian dari konsumen. Seleksi perseptual Tergantung pada dua faktor utama :
  1. Pengalaman konsumen sebelumnya, karena hal tersebut mempengaruhi harapan-harapan mereka (apa yang mereka siapkan atau “tetapkan” untuk dilihat),
  2. Motif mereka pada waktu itu (kebutuhan, keinginan, minat, dan sebagainya).
·      Organisasi persepsi.
Organisasi persepsi ( Perceptual Organization) berarti bahwa  konsumen  mengelompokkan  informasi dari berbagai sumber kedalam pengertian yang menyeluruh untuk memahami lebih baik dan bertindak atas pemahaman itu. Prinsip dasar dari organisasi persepsi adalah penyatuan  yang  berarti  bahwa  berbagai  stimulus  akan  dirasakan  sebagai suatu yang dikelompokkan secara menyeluruh.

·      Interpretasi Perseptual.
Proses terakhir dari persepsi adalah memberikan interpretasi atas stimuli yang diterima oleh konsumen. Setiap stimuli yang menarik perhatian konsumen baik disadari atau tidak disadari, akan diinterpretasikan oleh konsumen. Dalam proses interpretasi konsumen terdapat hal-hal sebagai berikut :

Akuisisi-Transaksi Utilitas
                Utilitas akuisisi merupakan dirasakan keuntungan ekonomi konsumen atau kerugian yang terkait dengan pembelian.
Fungsi utilitas produk dan harga pembelian
Utilitas Transaksi menyangkut kesenangan yang dirasakan atau ketidaksenangan yang terkait dengan aspek keuangan pembelian. Ditentukan oleh perbedaan antara harga referensi internal dan harga beli.
Kualitas Yang Dirasakan Atau Dipersepsikan
                Para konsumen sering menilai kualitas suatu produk atau jasa berdasarkan berbagai macam isyarat informasi, beberapa diantaranya intrinsik terhadap produk (seperti, warna, ukuran, rasa, aroma), sedangkan yang lain bersifat ekstrinsik (misalnya, harga, citra toko, citra merk, lingkungan jasa). Dalam keadaan tidak adanya pengalaman langsung atau informasi lain, parakonsumen sering mengandalkan harga sebagai indikator kualitas.
Skala SERVQUAL, dirancang untuk mengukur kesenjangan harga antara harapan pelanggan mengenai pelayanan dan persepsi konsumen mengenai pelayanan yang diberikan, yang didasarkan pada lima dimensi berikut ini:
·         Tangibles: Penampilan fasilitas fisik, peralatan, personil, dan bahan komunikasi
·         Reliabilitas : Kemampuan keandalan untuk melakukan layanan yang dijanjikan dependably dan akurat
·         Responsiveness : Kesediaan Responsiveness untuk membantu pelanggan dan memberikan layanan yang cepat
·         Asuransi : Pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuan mereka untuk menyampaikan kepercayaan dan keyakinan
·         Empati  : Peduli, perhatian individual perusahaan menyediakan pelanggan
 Risiko Persepsi
Menurut Dowling (1986) (dalam Ferrinadewi 2008) persepsi terhadap resiko (perceived risk) adalah persepsi negatif konsumen atas sejumlah akitivitas yang didasarkan pada hasil yang negatif dan memungkinkan bahwa hasil tersebut menjadi nyata. Hal ini merupakan masalah yang senantiasa dihadapi konsumen dan menciptakan suatu kondisi yang tidak pasti misalkan ketika konsumen menentukan pembelian produk baru. Berbagai penelitiann berhasil dilakukan oleh beberapa ahli dan hasilnya dirangkum oleh Mowen dan Minor (2001) :
1)      Resiko keuangan, resiko yang hasilnya akan merugikan konsumen secara keuangan.
2)      Resiko kinerja, resiko bahwa produk tidak akan memberika kinerja yang diharapkan.
3)      Resiko fisik, resiko bahwa produk secara fisik akan melukai konsumen.
4)      Resiko psikologis, resiko bahwa produk akan menurunkan citra diri konsumen.
5)      Resiko sosial, resiko bahwa lingkungan sekitar akan mengejek pembelian produk.
6)      Resiko waktu, resiko bahwa sebuah keputusan akan menghabiskan banyak waktu.
7)      Opportunity Loss, resiko bahwa dengan melakukan sebuah tindakan konsumen akan merasa     rugi jika melakukan hal lin yang benar-benar ingin ia lakukan.
Para konsumen mengembangkan strategi mereka sendiri untuk mengurangi resiko yang diharapkan meliputi:
  • Konsumen mencari informasi,
  • Konsumen setia kepada merk,
  • Konsumen memilih berdasarkan citra merk,
  • Konsumen mengandalkan citra toko (pedagang ritel yang mempunyai nama baik),
  • Konsumen membeli model yang termahal,
  • Konsumen memberi jaminan.

14 Mei 2013

KETAHANAN NASIONAL DALAM KEUTUHAN NEGARA
“PENGARUH GAM TERHADAP KETAHANAN NASIONAL INDONESIA”












DISUSUN OLEH :

NAMA       : NINDIA RIANASARI
NPM           : 15211181
KELAS       : 2 EA 14



FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN
UNIVERSITAS GUNADARMA
2013






KETAHANAN NASIONAL DALAM KEUTUHAN NEGARA
“PENGARUH GAM TERHADAP KETAHANAN NASIONAL INDONESIA”












  
 DISUSUN OLEH :


NAMA       : NINDIA RIANASARI
NPM           : 15211181
KELAS       : 2 EA 14









Dalam rangka memenuhi syarat tugas dan ujian program studi bidang pendidikan kewarganegaraan


FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN
UNIVERSITAS GUNADARMA
2013





KATA MUTIARA


Gagal adalah awal dari kesuksesan, bila dalam hidup kita belum pernah gagal maka selama hidup kita belum pernah melakukan apa pun.


Dahulukan membenarkan diri sendiri, sebelum membenarkan orang lain.


Ini bukan seberapa keras kamu bekerja tetapi seberapa banyak yang kamu lakukan.

Orang hebat adalah dia yang mensyukuri apapun kekurangan yang mereka punya sekarang dan merubahnya menjadi kelebiha.

Kebahagian terbesar adalah membuktikan sesuatu apa yang dikatakan orang tidak bisa, tetapi kita buktikan kita bisa.




KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat ALLAH SWT, akhirnya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini dengan judul : PENGARUH GAM TERHADAP KETAHANAN NASIONAL INDONESIA.
Karya ilmiah ini diajukan untuk memenuhi syarat bidang studi PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan yang telah diberikan selama penyusunan tugas karya ilmiah ini, yaitu :
1.    Bapak Jumharijinis, selaku Dosen Pendidikan Kewarganegaraan yang telah meluangkan waktu dan pikiran untuk membimbing penulis dalam tugas ini.
2.    Kedua orang tua, dan keluarga yang telah membantu dalam dukungan moril maupun materil untuk keberhasilan karya ilmiah ini.
3.    Semua teman-teman 2 EA 14 yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terima kasih atas bantuan dan dukungannya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa karya ilmiah ini jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu penulis mohon maaf atas kekurangan tersebut. Saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan karya ilmiah ini.
Akhir harapan penulis, semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis serta pembaca umumnya.
                             
Depok, 11 Mei 2013


Nindia Rianasari






DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .....................................................................................................................i
KATA MUTIARA ........................................................................................................................iii
KATA PENGANTAR ...................................................................................................................iv
DAFTAR ISI .................................................................................................................................v
                      
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................1
1.1   Latar Belakang ..................................................................................................................... 1
1.2    Alasan Pemilihan Judul ....................................................................................................... 2
1.3    Rumusan Masalah ............................................................................................................... 2
1.4    Tujuan Penelitian ................................................................................................................. 2
1.5   Manfaat Penelitian ............................................................................................................... 2
1.6   Sistematika Penulisan .......................................................................................................... 2

BAB II LANDASAN TEORI .....................................................................................................4
        
2.1 Ketahanan Nasional ..............................................................................................................4
2.2 Hakikat Ketahanan Nasional ................................................................................................4
2.3 Sifat Ketahanan Nasional .....................................................................................................5
2.4 Ciri Dan Asas Ketahanan Nasional .....................................................................................7
2.5 Hubungan Timbal Balik (Interelasi) ...................................................................................8
2.6  Ketahanan Nasional dan Usaha Penuangannya ke Dalam Kerangka Teori …….......….....9
2.7  Pembinaan Ketahanan Nasional ..........................................................................................9





BAB III PEMBAHASAN .......................................................................................................12
3.1       Permasalahan ...............................................................................................................12
3.2       Pembahasan .................................................................................................................12

BAB IV PENUTUP.................................................................................................................17
4.1       Kesimpulan dan Saran .................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................18
CURRICULUM VITAE .........................................................................................................19






BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Gerakan Aceh Merdeka atau GAM adalah sebuah organisasi (yang dianggap separatis) yang memiliki tujuan supaya Aceh, yang merupakan daerah yang sempat berganti nama menjadi Nanggroe Aceh Darussalam lepas dari Negara Republik Indonesia. GAM dipimpin oleh Hasan di tiro yang bermukim di Swedia dan berwarganegaraan Swedia. Tujuan utama GAM adalah ingin NAD berpisah dengan NKRI. Di dalam situasi antara GAM dan pemerintah, masyarakat NAD yang menjadi korban karena terjadi konflik antara GAM dan pemerintah sehingga para anggota GAM sering melakukan penculikan dan penarikan pajak terhadap para masyarakat NAD bahkan juga terjadi perang, sehingga para masyarakat NAD menjadi resah. Untuk itu para masyarakat NAD meminta agar pemerintah segera menyelesaikannya.
Dalam menyelesaikan konflik yang terjadi antara pemerintah NAD dengan GAM, pemerintah pusat melancarkan dua strategi yaitu otonomi khusus (untuk aspek agama, ekonomi, dan politik) bagi masyarakat sipil yang ada di NAD. Selain itu pemerintah juga mengadakan perundingan yang di kenal dengan sebutan COHA, hasil dalam perundingan ini pemerintah dan GAM tetap pada pendirian masing – masing.
Pembahasan ini tidak akan lepas dari ketahanan nasional, karena Hakekat Ketahanan Nasional Indonesia adalah keulatan dan ketangguhan bangsa yang mengandung kemampuan menggambarkan kekuatan nasional untuk dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara dalam mencapai tujuan nasional. Selain itu merupakan pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan nasional.
Sedangkan konsepsi ketahan nasional adalah keseimbangan dan keserasian dalam kehidupan sosial melingkupi seluruh aspek kehidupan secara utuh menyeluruh berlandaskan falsafah bangsa, ideologi negara, konstitusi dan wawasan nasional dengan metode astagrata. Konsepsi ketahanan nasional ini merupakan saran untuk mewujudkan ketahanan nasional. 



1.2  Alasan Pemilihan Judul
Dalam penulisan karya ilmiah ini yang berjudul “PENGARUH GAM TERHADAP KETAHANAN NASIONAL INDONESIA”. Penulis ingin menyampaikan kepada para pembaca agar mahasiswa sebagai kalangan intelektual pada khususnya dan masyarakat pada umumnya mengerti dan paham akan pentingnya ketahanan nasional.

1.3  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan ini adalah :
-          Apa saja yang menimbulkan pemberontakan GAM
-          Apa saja pengaruh yang ditimbulkan dari pemberontakan GAM
-          Apa saja langkah yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi pemberontakan GAM

1.4  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk :
-          Mengetahui hal-hal yang menimbulkan pemberontakan GAM.
-          Mengetahui pengaruh yang ditimbulkan pemberontakan GAM terhadap ketahanan nasional Indonesia.
-          Mengetahui tindakan/langkah yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi pemberontakan GAM.

1.5  Manfaat Penelitian
Untuk menghadapi tantangan yang semakin kompleks di era globalisasi, dimana perubahan-perubahan terjadi begitu cepat, manusia Indonesia harus memiliki ketahanan pribadi yang kuat yang berlandaskan kepribadian Pancasila yang mampu berinteraksi dengan lingkungannya.

1.6  Sistematika Penulisan
Penulisan ini terdiri dari 4 bab dimana setiap babnya memiliki sub bab sistematikanya adalah sebagai berikut :

BAB 1 PENDAHULUAN
Pada bab ini membahas latar belakang penulisan, rumusan batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
BAB 2 LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisikan landasan atas teori-teori yang mengacu pada tema penulisan karya tulis ini.

BAB 3 PEMBAHASAN
Pada bab ini berisi uraian mengenai judul yang dipakai, yaitu tentang “PENGARUH GAM TERHADAP KETAHANAN NASIONAL INDONESIA”, tindakan pemerintah dalam mengatasi pemberontakan yang dilakukan oleh GAM.

BAB 4 PENUTUP
Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran-saran atas isi dari karya tulis ini.




BAB II
LANDASAN TEORI
2.1  Ketahanan Nasional
Ketahanan Nasional adalah Perihal tahan ( kuat ) keteguhan hati, ketabahan dalam rangka kesadaran. Dalam pengertian nasional ( bangsa yang telah menegara ) tersimpul faham bahwa penduduk dari suatu wilayah tertentu yang telah mempunyai pemerintahan nasional dan berdaulat. Dengan demikian istilah nasional itu tidak hanya mencakup pengertian bangsa atau suatu wilayah semata – mata, tetapi lebih menunjukan makna sebagai “ kesatuan dan persatuan kepentingan bangsa yang telah menegara”.  Guna menjelaskan pengertian Ketahanan Nasional kepada bangsa asing dengan menggunakan bahasa inggris, istilah terjemahannya yang paling mendekati pengertian aslinya adalah National Resilience. Hal tersbut didasarkan pada pengalaman Lemhannas dalam menyebarluaskan pengertian tersebut di atas selama lebih kurang dua dasawarsa.
Untuk tetap memungkinkan berjalannya pembangunan nasional yang selalu harus menuju ke tujuan yang ingin dicapai dan agar dapat secara efektif dielakkan dari hambatan, tantangan, ancaman dan gangguan yang timbul baik dari luar maupun dari dalam, maka pembangunan nasional diselenggarakan melalui pendekatan ketahanan nasional yang mencerminkan keterpaduan antara segala aspek kehidupan bangsa secara utuh dan menyeluruh. 
Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis yang merupakan integrasi dari kondisi tiap aspek kehidupan bangsa dan negara. Pada hakikatnya ketahanan nasional adalah kemampuan dan ketangguhan sesuatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidupnya menuju kejayaan bangsa dan negara. Berhasilnya pembangunan nasional akan meningkatkan ketahanan nasional. Selanjutnya ketahanan nasional yang tangguh akan lebih mendorong pembangunan nasional.

2.2 Hakikat Ketahanan Nasional
        Ketahanan nasional yang dikembangkan bangsa Indonesia dapat meliputi sebagai berikut.
a.       Ketahanan ideologi adalah kondisi mental bangsa Indonesia yang berlandaskan keyakinan akan kebenaran ideologi Pancasila yang mengandung kemampuan untuk menggalang dan memelihara persatuan dan kesatuan nasional dan kemampuan untuk menangkal penetrasi ideologi asing serta nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.
b.        Ketahanan politik adalah kondisi kehidupan politik bangsa yang berlandaskan demokrasi politik berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, mengandung kemampuan stabilitas politik yang sehat dan dinamis serta kemampuan menerapkan politik luar negeri yang bebas aktif.
c.         Ketahanan ekonomi adalah kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang berlandasakan demokrasi ekonomi berdasarkan Pancasila, yang mengandung kemampuan memelihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis serta kemampuan menciptakan kemandirian ekonomi nasional dengan daya saing yang tinggi dan mewujudkan kemakmuran rakyat yang adil dan merata.
d.        Ketahanan sosial budaya adalah kondisi kehidupan sosial budaya bangsa yang dijiwai kepribadian nasional berdasarkan Pancasila, yang mengandung kemampuan  membentuk dan mengembangkan kehidupan sosial budaya manusia dan masyarakat indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, rukun, bersatu, cinta tanah air, berkualitas, maju, dan sejahtera dalam kehidupan yang serba selaras, serasi dan seimbang serta kemampuan menangkal penetrasi budaya asing yang tidak sesuai dengan kebudayaan nasional.
e.         Ketahanan pertahanan keamanan adalah kondisi daya tangkal bangsa yang dilandasi kesadaran bela negara seluruh rakyat yang mengandung kemauan memelihara stabilitas pertahanan keamanan negara yang dinamis, mengamankan pembangunan dan hasil – hasilnya, serta kemampuan mempertahankankedaulatan negara dan menangkal segala bentuk ancaman.

2.3  Sifat Ketahanan Nasional 
Ketahanan nasional bagi bangsa Indonesia dikembangkan seiring dengan budaya bangsa Indonesia yang bersifat integratif seperti yang disampaikan Prof. Mr. Soepomo sehingga semangat persatuan dan kesatuan merupakan kekuatan bangsa dalam mempertahankan eksistensi yang selama ini telah diuji dan sejarah mencatatnya sebagai kebenaran konsepsi bangsa Indonesia dalam mencapai cita-cita.
Sifat-sifat ketahanan nasional, sebagai berikut.
a.  Manunggal
Manunggal dalam tata kehidupan nasional merupakan ciri utama bangsa Indonesia dalam berbangsa dan bernegara, yaitu manunggalnya unsur lahiriah dan batiniah serta manunggalnya unsur materiil dan spiritual.
b. Mawas ke Dalam
Ketahanan nasional bagi bangsa Indonesia dalam upaya membangun kekuatan nasional bukan ditujukan untuk kepentingan ekspansi. Ketahanan nasional yang dikembangkan adalah suatu wawasan untuk kepentingan ke dalam yang disemangati oleh persahabatan untuk perdamaian.
c.Berwibawa
Berwibawa adalah hasol pancaran kejiwaan dari sikap bangsa yang mandiri dan percaya atas kebenaran perjuangan sehingga disegani dan dihormati dalam  pergaulan antarbangsa.
d. Dinamis (Berubah Menurut Waktu)
Ketahanan nasional mengehndaki sikap yang terbuka dan memiliki pandangan yang jauh ke depan sehingga bangsa itu mampu menyesuaikan diri terhadap setiap perubahan zaman.
e. Tidak Adu Kekuatan atau Adu Kekuasaan
Konsepsi ketahanan nasional yang mawas diri sangat berbeda dengan berbagai konsepsi negara yang bersifat ekspansif, baik di bidang politik maupun ekonomi.
f. Percaya Diri
Percaya diri sendiri digunakan sebagai asa pembangunan nasional, yaitu pembangunan nasional harus berlandaskan pada kemampuan dan kekuatan sendiri serta bersendikan kepada kepribadian bangsa.
g. Tidak Bergantung Pihak Lain
Sikap mental yang masih bergantung sangat merugikan kepribadian suatu bangsa dan tidak dapat memajukan dirinya sejajar dengan negara-negara lain yang lebih dahulu maju.


2.4  Ciri dan Asas Ketahanan Nasional
1.        Ciri Ketahanan Nasional
a.  Ketahanan nasional dijadikan prasyarat utama bagi bangsa yang sedang membangun karena semangat tidak mengenal menyerah akan memberikan dorongan dan rangsangan untuk berbuat dalam mengatasi tantangan, hambatan, dan gangguan yang timbul.
b.  Bagi bangsa yang baru membangun dirinya tidak lepas dari pencapaian tujuan sebagaimana dicita-citakan.
c. Ketahanan nasional diwujudkan sebagai kondisi dinamis bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan bangsa untuk mengembangkan kekuatan.
d.  Didasarkan pada astagatra.
e.  Dijiwai wawasan nasional.
f.    Pola umum operatif didasarkan Pancasila dan UUD 1945.

2.   Asas
Pengembangan ketahanan nasional bangsa Indonesia didasari pada asas, sebagai berikut.
a.  Kesejahteraan dan Keamanan
Penyelenggaraan ketahanan nasional dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan dan keamanan yang senantiasa yang terdapat pada setiap saat dalam kehidupan nasional, sesuai dengan  kondisi dan situasi yang dihadapi.
b.Utuh Menyeluruh Terpadu
Ketahanan nasional mencakup kehidupan bangsa secara menyeluruh dari seluruh kehidupan bangsa dalam wujud persatuan dan kesatuan, perpaduan yang selaras, serasi dan seimbang dari seluruh aspek kehidupan bangsa dan negara.
c. Kekeluargaan
Sikap kekeluargaan mengandung kearifan, kebersamaan, kesamaan, gotong royong, rasa tenggang dan tanggu jawab dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.
d. Mawas Diri
Dalam interaksi hubungan dengan lingkungan baik kadalam maupun keluar, bangsa Indonesia harus mampu bermawasdiri. Ngaruh hubungan interaksi itu akan memberikan dampak, baik yang bersifat posotif maupun negatif sehingga diperlukan mawasdiri. Khusus dalam rangka arus globalisasi, bangsa Indonesia harus pandai dalam menyesuaikan diri.

2.5              Hubungan Timbal Balik (Interelasi)
Antara trigatra dan pancagatra serta antargatra itu sendiri terdapat hubungan timbal balik yang sangat erat.
1.         Hubungan Antargatra di Dalam Trigatra
a.                          Antara Geografi dan Kekayaan Alam
b.                         Antara Geografi – Penduduk
c.                          Antara Kekayaan Alam – Penduduk
2.         Hubungan Antargrata di Dalam Pancagatra
a.                          Ideologi sebagai falsafah hidup bangsa dan landasan ideal negara.
b.                         Tingkah laku politik seseorang dipengaruhi oleh bermacam hal yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan.
c.                          Ketahanan ekonomi berhubungan erat dengan ketahanan di bidang ideologi, politik, sosial-budaya, dan pertahanan-keamanan yang berfungsi sebagai penunjang.
d.                         Keadaan sosial yang serasi, stabil dinamik, berbudaya, dan berkepribadian hanya dapat berkembang di dalam suasana aman dan damai.
e.                          Ketahanan pertahanan-keamanan memerlukan penunjang gatra lain.

3.         Hubungan Antara Trigatra dan Pancagatra
a.    Ketahanan Nasional hakekatnya bergantung kepada kemampuan bangsa/negara di dalam mempergunakan aspek alamiahnya sebagai dasar penyelenggaraan kehidupan nasional di segala bidang.
b.    Ketahanan Nasional mengandung pengertian keutuhan dimana terdapat saling hubungan erat antargrata di dalam keseluruhan kehidupan nasional.
c.    Kelemahan di salah satu bidang dapat mengakibatkan kelemahan di bidang lain dan mempengaruhi kondisi keseluruhan.
4.         Hubungan Antara Ketahanan Nasional dan Wawasan Nasional
a.    Wawasan Nasional sebagai cara pandang suatu bangsa memberi sifat ciri-ciri khas Ketahanan Nasionalnya.
b.    Untuk memperjuangankan hak hidup dan mencapai tujuan nasional mutlak diperlukan Ketahanan Nasional.
c.                         Wawasan Nasional merupakan basis bagi Ketahanan Nasional nyata.

2.6 Ketahanan Nasional dan Usaha Penuangannya ke Dalam Kerangka Teori
Dalam kegiatan ilmiah, terdapat tiga unsur yang perlu diperhatikan, yaitu data, teori dan nilai. Untuk memperoleh tingkat ketahanan yang nyata, dibutuhkan data sebagai tumpuan objektif, yang kemudian diperlukan suatu konsep teori untuk dapat memahami data itu. Selanjutnya, diperlukan nilai-nilai yang berkemampuan meninjau dan memberikan kritik-kritik terhadap kenyataan yang diajukan oleh data. Pada akhirnya, dibutuhkan nilai-nilai dan konsep teoretis untuk dapat mengkonstruksikan suatu gambaran untuk masa datang.Dengan demikian, ilmu pengetahuan dapat secara logis dan sistematis merumuskan sebagai suatu kegiatan integrasi antara empirisme, kritisisme, dan konstruktivisme. Sifat-sifat ketahanan nasional yang tidak ekspansif dan menunjukan sifat yang menunggal (integratet) mawas kedalam arti diperuntuhkan diri sendiri dalam mewujudkan kepribadian bangsa sendiri dan tidak menutup diri atau tidak dalam arti nasionalisme sempit, berwibawa dan tidak bersandar kepada kekuasaan dan kekuatan yang dapat menjauhkan sifat kebersamaan (dapat menumbuhkan sifat antaginistis dan konfontrasi).

2.7  Pembinaan Ketahanan Nasional
Bangsa Indonesia melakukan pembangunan nasional meliputi berbagai aspek kehidupan bangsa yang dikenal dengan astagatra yang terdiri dari gatra alamiah dan gatra sosial (dinamik). Delapan aspek kehidupan nasional yang dimaksud, sebagai berikut.
1.    Trigatra
a.       Aspek Geografi
Pembinaan geografi bagi bangsa Indonesia dapat dilakukan dengan tiga cara sebagai berikut.
1.)       Terhadap penyebaran pulau-pulau dan masalah perbatasan dilakukan dengan tetap memelihara persatuan dan kesatuan bangsa baik dengan penempatan transmigrasi di daerha perbatasan maupun pengamanan daerah perbatasan dan dengan melaksanakan politik bertetangga baik.
2.)        Peranan media elektronika menjadi sangat strategis dalam melakukan pengindraan jarak jauh baik untuk pembinaan persatuan bangsa maupun untuk kepentingan pertahanan.
3.)        Pembinaan teritorial oleh seluruh aparat sipil dan militer dalam membina wilayahnya dapat dipersiapkan untuk menjadi alat dan ruang juang.
b.         Aspek Sumber Alam
Pemanfaatan seluruh kekayaan alam suatu negara didasarkan pada asas optimasi lestari dan daya saing. Dalam pemanfaatan potensi sumber daya alam memerlukan:
1.)  Permodalan
2.)                           Penguasaan teknologi
3.)                           Penyediaan tenaga Terampil
4.)                           Masalah lingkungan hidup dalam rangka pelestarian sumber daya alam
c.         Jumlah Penduduk
Berhubungan erat dengan kepentingan peningkatan kesejahteraan dan masalah pertahanan keamanan.
2.    Pancagatra
a.         Aspek Ideologi
Ketahanan ideologi adalah kondisi mental bangsa Indonesia yang berlandaskan keyakinan akan kebenaran ideologi Pancasila.
b.         Aspek Politik
Kekuasaan suatu negara berada pada penyelenggara pemerintahan sehingga perjuangan politik berhubungan erat dengan perjuangan untuk menjalankan pemerintahan. Dalam integrasi politik, terdapat dua masalah utama.
1.)  Bagaimana rakyat tunduk dan patuh pada tuntutan negara
2.) Bagaimana meningkatkan konsensus normatif yang mengatur tingkah laku politik warga negara
c.         Aspek Ekonomi
Berdasarkan UUD 1945 Pasal 33, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asa kekeluargaan. Perekonomian Indonesia didasarkan pada budaya bangsa yang sifatnya integratif. Bagi suatu negara, dengan perubahan suasana perekonomian yang global juga akan berpengaruh dalam menciptakan kondisi, situasi serta akibat yang berbeda terhadap kehidupan ekonomi suatu negara, hal ini meliputi:
1.)                 Sifat Keterbukaan
2.)                 Struktur Ekonomi
3.)                 Pembinaan Sumber Daya Manusia
4.)                 Potensi Sumber Daya Alam
5.)                 Pengelolaan Sumber Daya
6.)                 Kemampuan Manajemen
7.)                 Penyediaan Infrastruktur
8.)                 Hubungan Ekonomi Luar Negeri
9.)                 Pemasaran
10.)             Peranan Birokrasi dan Masyarakat
d.        Aspek Sosial Budaya
Budaya adalah totalitas yang hidup dalam suatu masyarakat, yang terdiri dari sistem peralatan, penerapan teknologi, sistem religi dan pandangan hidup, kesenian, dan sistem ilmu pengetahuan serta lingkungan hidup yang berpengaruh pada tata laku masyarakat tertentu.
e.         Aspek Pertahanan dan Keamanan
Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap pertahanan dan keamanan sebagai berikut.
1.)    Doktrin Pertahanan Keamanan
2.)    Wawasan Nasional
3.)    Sistem Pertahanan dan Keamanan
4.)    Keadaan Geografi Negara
5.)    Sumber Daya Manusia
6.)    Integrasi Angkatan Bersenjata dan Rakyat
7.)    Pendidikan Kewiraan
8.)    Materiil
9.)    Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
10.)             Kemampuan Manajemen
11.)             Pengaruh Luar Negeri
12.)             Kepemimpinan





BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Permasalahan
Dalam makalah ini penulis akan mencoba memaparkan mengenai masalah yang berhubungan dengan,    Gerakan Aceh Merdeka adalah masalah Ketahanan Nasional. Ada beberapa hal yang akan kita jadikan sebagai permasalahan kita yakni:
-          Latar belakang apa yang menimbulkan pemberontakan GAM ?
-          Pengaruh apakah yang di timbulkan pemberontakan GAM terhadap ketahanan nasional indonesia ?
-          Tindakan/ langkah apa yang di lakukan pemerintah untuk mengatasi pemberontakan     GAM ?
3.2. Pembahasan
Kali ini penulis akan membahas masalah yang pertama, latar belakang pemberontakan GAM, GAM lahir karena kegagalan gerakan Darul Islam pada masa sebelumnya. Darul Islam muncul sebagai reaksi atas ketidak berpihakan Jakarta terhadap gagasan formalisasi Islam di Indonesia. Darul Islam adalah sebuah gerakan perlawanan dengan ideologi Islam yang terbuka. Bagi Darul islam, dasar dari perlawanan adalah Islam, sehingga tidak ada sentimen terhadap bangsa-bangsa lain, bahkan ideologi Islam adalah sebagai perekat dari perbedaan yang ada. Gagasan ini juga berkembang dalam gerakan Darul Islam di Aceh.
Akan tetapi, paska berhentinya perlawanan Darul Islam Aceh, keinginan Aceh untuk melakukan Islamisasi di Indonesia menjadi lebih sempit hanya kepada Aceh. Perubahan ini terjadi disebabkan karena kegagalan Darul Islam diseluruh Indonesia, sehingga memaksa orang Aceh lebih realistis untuk mewujudkan cita-cita. Yang menjadi menarik adalah, GAM yang melanjutkan tradisi perlawanan Aceh, ternyata tidak melanjutkan ideologi Islam yang terlebih dahulu digunakan oleh Darul Islam. Sebagaimana yang disebutkan bahwa GAM lebih memilih nasionalisme Aceh sebagai isu populisnya, yang mempengaruhi muculnya GAM berikutnya adalah  faktor ekonomi, yang berwujud ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi antara pusat dengan daerah. Pemerintahan sentralistik Orde Baru menimbulkan kekecewaan berat terutama di kalangan elite Aceh. Pada era Soeharto, Aceh menerima 1% dari anggaran pendapatan nasional, padahal Aceh memiliki kontribusi 14% dari GDP Nasional. Terlalu banyak pemotongan yang dilakukan pusat yang menggarap hasil produksi dari Aceh. Sebagian besar hasil kekayaan Aceh dilahap oleh penentu kebijakan di Jakarta. Meningkatnya tingkat produksi minyak bumi yang dihasilkan Aceh pada 1970-an dan 1980-an dengan nilai 1,3 miliar US Dolar tidak memperbaiki kehidupan sosial ekonomi masyarakat Aceh.
Kemunculan GAM pada masa awalnya langsung mendapat respon oleh pemerintah Orde Baru dengan melakukan operasi militer yang represif, sehingga membuat GAM kurang bisa berkembang. Walau demikian, GAM juga melakukan pelebaran jaringan yang membuat mereka kuat, baik pada tingkat internasional maupun menyatu dengan masyarakat dan GAM bisa terus bertahan.Pada masa Orde Baru GAM memankan dua wajah; satu wajah perlawanan (dengan pola-pola kekerasan yang dilakukan), dan strategi ekonomi-politik yang dimainkan (dengan mengambil uang pada proyek-proyek pembangunan).
Masalah berikutnya yakni pengaruh apakah yang di timbulkan pemberontakan GAM, terhadap ketahanan nasional Indonesia, pengaruhnya masuk dalam berbagai aspek kehidupan bernegara, terutama terhadap kesatuan dan persatuan yang secara otomatis akan menimbulkan perpecahan lalu akan memotivasi daerah lain yang mempunyai keinginan memberontak di saat pemerintah sedang mengurusi masalah masalah GAM, serta Gerakan separatis di Aceh telah banyak melibatkan penggunaan sumberdaya nasional, dan akibatnya telah menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang tidak kecil.untuk berikut–berikutnya indonesia harus mempunyai Langkah-langkah kebijakan dalam pencegahan dan penanggulangan separatisme adalah (1) pemulihan keamanan untuk menindak secara tegas separatisme bersenjata yang melanggar hak-hak masyarakat sipil; (2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah rawan konflik atau separatisme melalui perbaikan akses masyarakat lokal terhadap sumber daya ekonomi dan pemerataan pembangunan antardaerah; (3) meningkatkan kualitas pelaksanaan otonomi dan desentralisasi; (4) mendeteksi secara dini dan pencegahan awal potensi konflik dan separatisme; (5) melaksanakan pendidikan politik secara formal, informal, dialogis, serta melalui media massa dalam rangka meningkatkan rasa saling percaya; (6) menguatkan kelembagaan pemerintah daerah di bidang pelayanan publik; dan (7) menguatkan komunikasi politik pemerintah dengan masyarakat.
Contoh upaya yang dilakukan dalam pencegahan dan penanggulangan separatisme ditempuh melalui program-program sebagai berikut.
A.  Pengembangan Ketahanan Nasional
Pengembangan ketahanan nasional dimaksudkan sebagai usaha mengembangkan dan meningkatkan ketahanan nasional, wawasan nasional dan sistem manajemen nasional, serta wawasan kebangsaan bagi warga negara dalam rangka mengatasi berbagai aspek ancaman terhadap kehidupan bangsa dan negara.
Untuk mencapai tujuan tersebut, telah dilakukan perumusan rancangan kebijakan nasional dalam rangka pembinaan ketahanan nasional untuk menjamin tercapainya tujuan dan kepentingan nasional dan keselamatan negara dari ancaman terhadap kedaulatan, persatuan, dan kesatuan. Untuk itu, peneliteian dan pengkajian strategis masalah aktual yang berkaitan dengan konsepsi pertahanan dan keamanan nasional, wawasan nusantara, ketahanan nasional, dan sistem manajemen nasional merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendukung upaya mencapaian tujuan tersebut.
B.       Penyelidikan, Pengamanan dan Penggalangan Keamanan Negara
Penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan keamanan negara dimaksudkan sebagai usaha meningkatkan kemampuan profesionalisme intelijen guna lebih peka, tajam, dan antisipatif dalam mendeteksi dan mengeliminasi berbagai ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang berpengaruh terhadap kepentingan nasional dalam hal deteksi dini untuk mencegah dan menanggulangi separatisme.
Untuk mencapai tujuan tersebut, telah dilakukan operasi intelijen dalam hal deteksi dini untuk mencegah dan menanggulangi separatisme, koordinasi seluruh badan-badan intelijen pusat dan daerah di seluruh wilayah NKRI dalam hal mencegah dan menanggulangi separatisme, serta pengkajian analisis intelijen perkembangan lingkungan strategis, pengolahan dan penyusunan produk intelijen dalam hal deteksi dini untuk mencegah dan menanggulangi separatisme.



C.  Penjagaan Keutuhan Wilayah NKRI
Penjagaan keutuhan wilayah NKRI dimaksudkan sebagai usaha mewujudkan kesiapan operasional dan penindakan ancaman baik berupa invasi/agresi dari luar dan ancaman dari dalam baik ancaman militer maupun nonmiliter.
Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan antisipasi dan pelaksanaan operasi militer atau nonmiliter terhadap gerakan separatis yang berusaha memisahkan diri dari NKRI terutama gerakan separatisme bersenjata yang mengancam kedaulatan dan keutuhan wilayah Indonesia.
Di samping itu, dilakukan pula antisipasi dan pelaksanaan operasi militer atau nonmiliter terhadap aksi radikalisme yang berlatar belakang primordial etnis, ras, dan agama serta ideologi di luar Pancasila, baik berdiri sendiri maupun memiliki keterkaitan dengan kekuatan-kekuatan di luar negeri.
D.      Pemantapan Keamanan Dalam Negeri
Pemantapan keamanan dalam negeri dimaksudkan sebagai usaha meningkatkan dan memantapkan keamanan dan ketertiban wilayah Indonesia terutama di daerah rawan, seperti wilayah laut Indonesia, wilayah perbatasan, dan pulau-pulau terluar, serta meningkatkan kondisi aman wilayah Indonesia dari tindak kejahatan separatisme.
Untuk mencapai tujuan tersebut, telah dilakukan operasi keamanan dan penegakan hukum dalam hal penindakan awal separatisme di wilayah kedaulatan NKRI, upaya keamanan dan ketertiban di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar, serta pendekatan persuasif secara intensif kepada masyarakat yang rawan terhadap pengaruh separatis.
E.       Peningkatan Komitmen Persatuan dan Kesatuan Nasional
Peningkatan komitmen persatuan dan kesatuan nasional dimaksudkan sebagai usaha menyepakati kembali makna penting persatuan nasional dalam konstelasi politik yang sudah berubah.
Untuk mencapai tujuan tersebut, telah dilakukan pendidikan politik masyarakat dan sosialisasi wawasan kebangsaan. Di samping itu, diupayakan pula  perwujudan dan fasilitasi berbagai forum dan wacana-wacana sosial politik yang dapat memperdalam pemahaman mengenai pentingnya persatuan bangsa, mengikis sikap diskriminatif, dan menghormati perbedaan-perbedaan dalam masyarakat.

F.        Peningkatan Kualitas Pelayanan Informasi Publik
Peningkatan kualitas pelayanan informasi publik sebagai usaha meningkatkan mutu pelayanan dan arus informasi kepada dan dari masyarakat untuk mendukung proses sosialisasi dan partisipasi politik rakyat.
Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan implementasi upaya proaktif dalam penyediaan informasi yang lebih berorientasi pada permintaan dan kebutuhan nyata masyarakat, serta memperluas jaringan informasi dan penyiaran publik untuk mempromosikan nilai-nilai persatuan dan persamaan secara sosial.
Kemudian kita akan membahas masalah berikutnya, langkah apakah yang di lakukan pemerintah dalam menangani GAM, Dalam rangka menyelesaikan masalah separatisme di Aceh secara damai, bermartabat dan menyeluruh, Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam kurun waktu terakhir ini secara intensif melakukan perundingan informal di Helsinski yang difasilitasi oleh Crisis Management Inisiative. Berbagai issue penting yang telah disepakati oleh kedua belah pihak dalam perundingan damai tersebut diharapkan akan menjadi landasan yang kokoh dalam penyelesaian masalah separatisme di Aceh. Lalu Pemerintah Republik Indonesia bertekad menyelesaikan secara damai, komprehensif, dan bermartabat dalam bingkai NKRI. Dengan berpedoman pada Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah RI dengan GAM yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, sebagai langkah nyata, Pemerintah RI dengan negara Uni Eropa dan negara ASEAN akan menandatangani MoU tentang keikutsertaan Aceh Monitoring Mission (AMM) sehingga diharapkan upaya damai dapat diwujudkan secepatnya. Kedua MoU tersebut menjadi prinsip dasar bagi para pihak dan digunakan sebagai pedoman untuk diimplementasikan dengan dimonitor oleh AMM.





BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Persatuan sebagai landasan untuk mencapai ketahanan nasional. Dari kesatuan pandangan akan didapat ketahanan nasional yang kuat. Dengan adanya kesamaan pandangan antara pemerintah dengan masyarakat maka dengan mudah pemerintah dapat menentukan politik dan strategi nasional. Jika wawasan nasional, ketahanan nasional serta politik dan strategi nasional suatu bangsa tercapai maka tujuan nasional bangsa tersebut tidak hanya menjadi cita-cita belaka tetapi dapat terwujud.

Saran
Setelah membaca makalah ini hendaknya pembaca dapat mengetahui dan memahami pentingnya persatuan dalam suatu negara demi terciptanya ketahanan nasional yang kokoh dan kuat. Serta dapat melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.





DAFTAR PUSTAKA

(1)   Abubakar, Suardi, 2007, Menuju Masyarakat Madani, Yudhistira, Jakarta.
(2)   Karsono, Dedi, 1999, Kewiraan Tinjauan Strategis dalam Berbangsa dan Bernegara, Grasindo, Jakarta.
(3)   Lembaga Ketahanan Nasional, 1995, Ketahanan Nasional, Balai Pustaka, Jakarta.
(4)   Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas), 1993, Kewiraan Untuk Mahasiswa, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
(5)   Sumarsono, 2005, Pendidikan Kewarganegaraan, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.






CURRICULUM VITAE



Nama                                       : Nindia Rianasari
Tempat, Tanggal Lahir            : Jakarta, 21 Juni 1993
Jenis Kelamin                          : Perempuan
Kewarganegaraan                   : Indonesia
Agama                                     : Islam
Kondisi                                   : Sehat
Tinggi badan                           : 163 cm
Berat badan                             : 42 kg
Alamat                                    : Jalan Anggrek 9 No 6-7 Blok AS 32 RT/005 RW/014 Kranggan Permai, Bekasi
Hobby                                     : Hangout, Nonton, Baca Buku, Online
Cita – Cita                                : Menjadi Perempuan Karir

PENDIDIKAN FORMAL
n  Tahun 2011-Sekarang         : Universitas Gunadarma
Ø  Manajemen Ekonomi-Fakultas Ekonomi
Ø  IPK: 3,24
n  Tahun 2008-2011               : SMA 113 Jakarta
n  Tahun 2005-2008               : SMP 230 Jakarta
n  Tahun 1999-2005               : SD Cilangkap 04 Pagi Bekasi
n  Tahun 1997-1999               : TK Al-Jihad Bekasi